Menjadi pendidik pembelajar

Anak-anak kita adalah benih-benih yang harus disemaikan sesuai dengan kodratnya agar menjadi manusia paripurna. Setidaknya ada tiga kodrat yang menempel pada diri manusia, yaitu kodrat diri, kodrat alam, dan kodrat jaman. Ketiga kodrat ini akan berpengaruh kepada bagaimana manusia itu akan menjalani kehidupan dengan layak.

Tentu saja segala usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan lingkungan belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan diri yang biasa kita sebut pendidikan haruslah dilaksanakan sesuai dengan kodrat yang menempel pada anak peserta didik kita. Pendidikan yang kita laksanakan berorientasi agar anak didik kita dapat hidup layak pada masanya. Bukan menjadikan anak didik kita untuk hidup seperti kita.

Salah besar apabila kita sebagai pendidik, memaksakan peserta didik kita untuk mengikuti cara bagaimana kita belajar atau malah kita memaksakan peserta didik kita untuk mengikuti bagaimana cara kita hidup. Anak-anak didik kita adalah benih yang harus kita semai sesuai kodratnya. Mereka memiliki karakteristik masing-masing yang unik. Sebagai seorang individu mereka memiliki kepribadian masing-masing. Mereka memiliki alam hidup mereka sendiri. Mereka hidup dijaman yang berbeda dengan kita.

Agar mampu memberikan intervensi yang tepat terhadap anak didik kita, sebagai seorang pendidik, kita harus mampu menyesuaikan dengan bagaimana keadaan kodrat anak peserta didik kita. Kita harus memahami dan mampu beradaptasi dengan karakteristik diri setiap peserta didik kita. Kita harus mampu mengikuti perkembangan zaman termasuk segala teknologi yang ada. Kita harus selalu mampu untuk bertransformasi dengan keadaan yang ada.

Oleh karena itu, wajib kiranya kita sebagai pendidik untuk terus belajar. Tidak merasa nyaman dengan kondisi yang sudah ada. Terus meningkatkan kapasitas kita sebagai seorang pendidik tanpa mengenal batasan waktu dan tempat. Usia bukan lah harus alas an untuk kita agar belajar. Bukankah menjadi manusia pembelajaran itu adalah tuntunan sepajang hayat?bukankah menuntut ilmu itu sejak buaian sampai liang lahat?